Merubah AFTA dari Ancaman menjadi Peluang bagi PKM di SOLO
(Memenejemeni Pengembangan Produk untuk Ekspor bagi Usaha Kecil Menengah)
Adanya tantangan di masa depan yang harus dihadapi PKM (Perusahaan Kecil Menengah) berupa persaingan yang sangat ketat (high competition), dorongan dari konsumen yang selalu menuntut perbaikan (customer driven), dan lingkungan dunia usaha yang berubah cepat (changing work environment). Serta adanya PKM yang : (1) tidak memiliki kompetensi (competency) dalam melakukan perubahan sistem bisnis (business system change), (2) tidak mampu merubah kebiasaannya (behavior change), (3) menghasilkan kualitas produk yang rendah / poor quality,(4) mempunyai produktivitas rendah / unproductive, dan (5) tidak efisien / inefficiency, akan menyebabkan PKM mengalami kesulitan dan tidak bisa bertahan. Hal ini tentunya juga dialami oleh para PKM yang ada di Solo. Semua perusahaan Kecil menengah memiliki suatu proses operasional yang terdiri dari serangkaian kegiatan yang memproduksi barang dan jasa bagi konsumen
AFTA oleh sebagian orang yang belum siap akan dianggap sebagai ancaman karena produk-produk impor akan masuk ke pasar domestik dengan lebih mudah. Tetapi, kenapa paradigma berfikir kita tidak dirubah saja? Jika kita bisa menghasilkan produk yang berkualitas ekpor, justru AFTA akan membuka peluang seluas-luasnya untuk ekspor. Lantas bagaimana mengubah dari ancaman menjadi peluang?. Produk yang berkualitas adalah salah satu kuncinya. Bagaimana mengembangkan PKM agar mempunyai kemampuan memenejemeni ”Pengembangan Produk untuk Ekspor”. Pertama, kenali ”Konsep Produk” yang akan dikembangkan. Pelajari siklus produk yang akan di buat serta positioning dari produk tersebut. Kedua, kembangkan ”Teknik Pengembangan Produk Baru”. Pahami bahwa konsep pengembangan adalah suatu tahapan generation idea , evaluation, selection, determination, and planning. Kemudian pelajari pengaruh pasar dan lingkungan dalam pengembangan produk. Ketiga, lakukan ”Pengembangan Ide Produk”. Pelajari sumber–sumber ide produk, arah pengembangan produk dan lakukan pendekatan untuk mendapatkan ide produk ( creative process, unstructured-structure consumer based, expert based). Keempat, lakukan ” Screening Ide Produk Baru”. Dari beberapa ide produk yang ada, sebaiknya dilakukan seleksi secara sistematis agar terpilih produk yang terbaik. Pelajari konsep screening yang berbasis pada keinginan konsumen. Ada ada 2 teknik screening, yaitu qualitative dan quantitative. Selanjutnya lakukan ” Management Screening and Evaluation”. Kelima lakukan ”Pengembangan Ide menjadi Produk”. Susunlah sistem operasi untuk membangun proses pembuatan produk baru. Setelah ada contoh produk yang dibuat, lakukan pengujian produk baru dan market testing sebelum dilakukan produksi secara masal serta lakukan pengorganisasian pengembangan produk. Keenam, mengembangkan ”Strategi Penawaran Produk Untuk Ekspor ”. Lakukan penyempurnaan kelengkapan fitur produk, yaitu: merek, pengemasan, dan jaminan. Ikuti dengan perlindungan hukum terhadap produk yang akan dibuat, misalnya trade marks, patents, copyrights, dan trade dress. Berikan perlindungan terhadap konsumen dengan memberikan jaminan safety product dan pemberian label. Terakhir, kembangkan strategi pemasaran produk untuk ekspor dengan membangun jaringan pemasaran yang kuat.
Untuk itu, PKM harus berupaya untuk mencapai “Keberhasilan Manajemen Produk dan Kualitas” dan harus memahami elemen-elemen pokok dari keberhasilan tersebut yaitu : (1). fokus pada konsumen; (2) budaya organisasi perusahaan yang mendukung; dan (3) peralatan dan teknik yang tepat. Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dari pelaku PKM menjadi kunci keberhasilan dari manajemen produk dan kualitas. Untuk itu tidak ada salahnya jika PKM juga memperhatikan pengembangan SDM dengan mengikuti training ataupun konsultasi pendampingan UKM agar mampu merubah ancaman menjadi peluang. Persaingan masa depan adalah persaingan SDM sehingga PKM-pun harus membuka diri terhadap pengembangan SDM agar memiliki budaya organisasi yang mendukung terhadap perbaikan kualitas secara terus-menerus serta memiliki daya saing yang tinggi (competitiveness) untuk berorientasi ekspor. (*)
Filed under: Artikel Ilmiah